Sunday, August 28, 2011

Saeng-il cugha Hamnida

'Bintang. Kado yang sangat indah buatmu',pikirku. Namun, seketika itu aku sadar bahwa benda yang indah itu jauh, besar, dan tentu saja panas. Tak mungkin bagiku untuk membuatnya menjadi kado untukmu besok. Bintang, udah hampir seperti pacarku sendiri. Setiap malam aku selalu menyempatkan diri untuk menaiki atap dan menyapanya atau bahkan bercerita dengannya, yah walaupun dia tak menjawab kata-kataku sedikitpun namun aku merasa nyaman dengannya. Aku bahkan iri dengannya, mau aku ajak cerita, mau ngeliat aku nangis, selalu ngluarin sinar yang indah buat aku biar jadi gak takut akan malam, bahkan dia tidak pernah marah kepada kalanganku kala bintang lainnya atau bahkan dirinya hilang ditelan terangnya lampu-lampu kota. Aku ingin jadi bintang, terutama untukmu. Tapi, apa kamu membutuhkan bintang seperti diriku? apakah bintang menjadi sesuatu yang penting untukmu? Kupikir tidak. Jadi percuma saja jika aku telah menjadi bintang. Namun bintang yang tidak mempunyai terang yang indah untuk menemanimu tidur malam itu. Aku juga gak ngerti kenapa aku tiba-tiba menjadi seperti ini. Awalnya aku sudah bisa acuh kepadamu, namun lama-lama aku rindu akan dirimu...lgi. Sudah kucoba untuk mengingat-ingat tentangmu yang jahat-jahat agar aku bisa melupakanmu. Namun, aku msh punya perasaan itu. Mungkin janji yang kuucapkan waktu itu didengar oleh-Nya dan aku harus memenuhinya sampai tugas ku didunia selesai. Malam ini, penyakitku datang lagi. Ya, aku rindu penyakit ini. Siang ini bajuku sudah kena tetes darahku namun masih dapat kusembunyikan dari teman-temanku. Aku mengartikan darah yang keluar itu adalah hukuman dari Tuhan karena aku tak mau melakukan janjiku sendiri. Janji yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh orang yang PRO, orang yang punya kekuatan special sekalipun. Janji itu, menjagamu selamanya dengan cara..aku menjadi bintang untukmu. Tapi, kelihatannya aku memang harus melaksanakan hukuman Tuhan ini. Aku tak mungkin menjadi bintangmu, mungkin kalaupun aku menjadi bintang akulah bintang paling redup dan berwarna merah kotor itu, sama seperti malam terakhir kau memanggilku 'sayang'. Bintang yang telah dikutuk Tuhan karena ingkar janji untuk menjaga seseorang. Namun, tiap malam aku berdoa agar aku tetap menjadi bintang yang indah walaupun tidak seindah bintang yang kau miliki sekarang. Bintang yang selalu kau banggakan, bintang yang sempurna untukmu. Kini aku sudah bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi bintang, hanya bisa memandang sesuatu yang kita sayangi dari jauh, dan mengucapkan 'selamat tidur' tanpa rasa menyesal.Ya aku telah menjadi bintang, walaupun bukan untukmu. dan kini aku hanya bisa mengucapkan 'Saeng-il cugha Hamnida
'.

No comments:

Post a Comment